JAKARTA – Pengamat intelijen Andi Widjajanto mengatakan tewasnya tiga anggota Polri dalam penyergapan di Aceh menunjukkan kegagalan intelijen polisi. “Intelijen tidak dapat mengantisipasi kelompok bersenjata dengan kemampuan teknis tempur yang baik,” ungkap Andi kepada wartawan, Ahad (7/3).
Polisi, menurut dia, terkejut karena tidak mengantisipasi kelompok tersebut dengan pasukan berjumlah lebih banyak dan persenjataan yang lengkap. Padahal, ujarnya, mereka merupakan kelompok besar yang mempunyai asupan senjata hasil penyelundupan gelap dari luar negeri. “Ini terbukti dari senjata dan puluhan ribu peluru yang berhasil disita dari mereka,” jelasnya.
Ia pun melihat jaringan kelompok tersebut sudah kuat. Penyelundupan yang berhasil mereka lakukan yang diduga dari laut, kata dia, merupakan bukti dari keberhasilan mereka membangun jaringan transnasional. Dalam waktu dekat ini, ujar Andi, polisi harus mengidentifikasi siapa sebenarnya jaringan kelompok tersebut.
Andi mengatakan ada beberapa kemungkinan jaringan yang bermain di Aceh. Pertama, jaringan Noordin M. Top yang melebarkan sayap ke Aceh. Kedua, kelompok teroris baru yang terkait dengan pembajakan selat malaka. “Kelompok ini yang dinyatakan oleh TNI,” tutur dia. Terakhir, kelompok militer bersenjata baru yang tujuannya bukan teror. Andi mengatakan kemungkinan tersebut cukup besar terjadi karena sampai sekarang tidak ditemukan rangkaian bom.
Sumber: Republika
Berita Terkait:
- Teroris di Aceh Diduga Kelompok Separatis
- Aceh Sarang Baru Teroris Internasional?
- Teroris di Aceh, Diduga Kelompok Noor Din M. Top
- Ancaman Selat Malaka Terkait Teroris Aceh?
- Tersangka Teror di Aceh Wajah Baru
- Polri Enggan Jelaskan Aktivitas Kelompok Bersenjata Aceh
- Noordin Tewas, Al Qaeda Mengancam
- Anak Buah Noordin M Top Gagal Ditangkap
- Presiden Minta Intelijen dan TNI Optimal Cegah Aksi Terorisme
- Perempuan Aceh Dinilai Gagal ke Parlemen




