Banda Aceh – Perjalanan sejarah sastra di Indonesai belum mengakomodasi seluruh daerah sehingga perlu direvisi, kata salah seorang konsultan Balai Bahasa, Kamis.
“Masa kesultanan Aceh, banyak penyair dan ulama ternama seperti Hamzah Fansuri, Syeh Abdul Rauf As-Singkili dan Nuruddin Ar-Raniry. Nama dan karya-karya mereka tak pernah didengungkan secara nasional,” kata Maman S. Mahayana dalam satu seminar sastra di Banda Aceh, Kamis.
Menurut Maman, perjalanan sastra yang terjadi saat ini hanya menceritakan beberapa karya tokoh yang diambil dari beberapa daerah sehingga meredupkan nama-nama para penyair ternama lainnya.
“Intelektual dan hasil karya sastra di Aceh telah berkembang sejak masa kesultanan Aceh tempo dulu, itu telah menjadi karya besar dan perlu dibaca oleh seluruh Indonesia bukan Aceh saja,” jelasnya.
Oleh karena itu, harus ada revisi ulang terhadap sastra Indonesia sehingga seluruh penyair besar tanah air mendapatkan penghargaan yang sama dengan hasil karya mereka.
“Kalau semua karya sastra para penyair terbaik dikumpulkan, maka akan menjadi kekayaan luar biasa dalam khazanah sastra Indonesia,” jelasnya. (antaranews)
Berita Terkait:
- Gus Dur Lebih dari Pahlawan Nasional
- SBY Perlu Tinjau Produk Hukum Konflik Kewenangan
- Penyelesaian Pengungsi Myanmar di Aceh Perlu Waktu
- Presiden: Proses Reintegrasi Aceh Perlu Kesediaan Hati
- Keperawatan Bencana Perlu Masuk Kurikulum Akademi Perawat
- Perpustakaan Nasional Pamerkan Naskah dan Foto Kuno
- Kesultanan Oman Komit Bantu 500 Anak Yatim Aceh
- Masyarakat Aceh Jangan Terbuai Romantisme Sejarah
- BPD Aceh Naik Peringkat Nasional
- Mantan Panglima GAM: Tidak Ada yang Perlu Ditakutkan Dengan PA




