Banda Aceh – Program beasiswa pendidikan pilot bagi generasi muda Aceh menuai kritik karena tidak urgensi dan pemberian tersebut tidak pernah masuk dalam pembahasan Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA).
“Sebenarnya urgensi beasiswa pilot ini untuk apa, untuk siapa dan diberikan kepada siapa,” tanya Ketua Komisi F, Burhanuddin kepada anggota Komisi Beasiswa dalam pertemuann dengan Komisi F Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) di Ruang Panmus, Jum’at (31/7).
Pertanyaan Burhanuddin bukanlah tanpa alasan. Jika melihat dunia penerbangan domestik dari pesawat terbang milik Pemerintah Aceh, justru berakhir tragis. Bahkan, AirAceh yang semula dikatakan akan segera beroperasi hingga kini maish tanda tanya. Dengan sarana dan prasarana yang nihil itu, tentu beasiswa pilot ini dipertanyakan urgensinya.
“Kami dari DPRA tentu sangat terkejut dengan informasi adanya beasiswa pilot ini. Kami melihat dalam buku APBA tercantum program ini, padahal masalah beasiswa pilot tidak pernah muncul dan kami bahas. Baik pada tahaf pembahasan PPAS hingga APBA,” kata Burhanuddin.
Mendapat kritikan ini, Kepala Biro Keistimewaan dan Kesejagteraan Sosial Aceh, Saifuddin Harun mengatakan bahwa usulan dan pemberian beasiswa pilot ini tidak lain karena banyaknya anak-anak Aceh yang menanyakan dan ingin belajar pilot.
“Untuk itu kami membuka kesempatan ini dan memberi beasiswa kepada 30 putra Aceh untuk belajar pilot. Apalagi jika kita naik pesawat terbang dari Aceh tidak ada satupunpilot yang berasal dari Aceh,” kata Saifuddin.
Saifuddin mengaku pihaknya terburu-buru oleh waktu sehingga tidak sempat berkonsultasi kepada anggota DPRA. Apalagi, pihak Malaysia mengharuskan para penerima beasiswa pendidikan pilot dari Aceh harus sudah berada di Malaysia pada bulan Agustus ini.
Saat Komisi F mempertanyakan siapakah para penerima beasiswa pilot ini. Wakil Ketua Komisi Beasiswa, Idris Ibrahim mengatakan, beasiswa ini diberikan kepada putra-putra Aceh setelah melalui seleksi. Lalu dipilih 30 orang dan dibagi tiga kelompok.
Untuk kelompok pertama sebanyak 10 orang dikirim ke Malaysia. “Selain Malaysia, 10 orang dikirim ke Jakarta dan 10 orang lagi di kirim ke Yogyakarta. |Jadi beasiswa ini dilakukan seleksi bukan karena memilih anak-anak pejabat sebagaimana isu yang berkembang,” sebut Idris Ibrahim.(tgj)
Berita Terkait:
- Siap-siap, Beasiswa “ITB Untuk Semua” 2010!
- Sang Orator Ulung yang Terkurung di Seberang
- Tes Beasiswa Program Penerbang Masuki Tahap Akhir
- UMNO Malaysia dan DMDI Akan Bantu Aceh
- Pilot Meninggal, Pesawat Selamat
- Pendaftaran Beasiswa Pemerintah Perancis 2010 Dibuka November
- Beasiswa Tes Masuk PTN untuk Siswa Tak Mampu
- Kesempatan Beasiswa ke Mesir bagi Mahasiswa Indonesia
- Beasiswa ke Australia Kembali Dibuka
- Malaysia Sediakan 100 Beasiswa Internasional




