Kisah Pengabdian dari Medan Juang

Jakarta - Saat itu tanggal 2 November 1999. Anggota pasukan Brimob Mabes Polri Bripka Eka Cahya dan rekan-rekannya ditugaskan dalam Operasi Rencong di Aceh. Mereka melakukan penyergapan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh Timur.

Kontak senjata pun terjadi. Saat baku tembak tersebut, tulang rahang kanan Eka terkena timah panas hingga tembus ke pipi kiri. Meski sempat membalas dengan beberapa kali tembakan, tubuh Eka akhirnya roboh ke tanah.

“Saya roboh. Kejadiannya di sebuah kedai. Baru sadar setelah sampai rumah sakit,” kata Eka mengenang peristiwa 10 tahun itu saat ditemui detikcom di acara HUT ke-63 Polri di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (1/7/2009) kemarin.

Dituturkan Eka, dirinya sempat tidak sadar selama dua hari. Begitu sadar, dia langsung dibawa ke Jakarta untuk operasi pemulihan pipi. Namun, bentuk pipinya tetap tidak bisa seperti semula. Pipi Eka kini tampak cekung ke dalam.

“Operasi dilakukan tetapi tetap saja nggak bisa. Diambil tulang-tulang dari tubuh saya tetap saja,” lanjutnya.

Namun, kondisi cacat tidak membuat Eka putus asa dan melepas profesinya sebagai polisi. Semangat dan kepercayaan dirinya untuk tetap mengabdikan diri di Kepolisian tetap menyala. Akhir tahun 2001, dia mulai bertugas kembali, meski tidak di lapangan. Eka kini berdinas di satuan penjinak bom Gegana bagian personel.

“Teman-teman saya kasih motivasi semua. Jadi saya bangkit lagi,” kata Eka yang menjadi salah satu penerima penghargaan dan tali kasih dalam acara tersebut. Penghargaan itu diserahkan Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri (BHD) terhadap personel Kepolisian yang mendapat musibah saat menjalankan tugas.

Penerima penghargaan lainnya, Bripka Tholib, mengaku punya perasaan yang sama seperti Eka. Meski tangan kirinya buntung akibat terkena ledakam bom, Tholib tetap ingin bekerja. Tholib sekarang menjadi staf logistik di Satuan Gegana.

Peristiwa yang dialami Tholib berawal saat dia ditugaskan ke Aceh setahun setelah Eka. Usai kontak senjata dengan GAM, Tholib melakukan penyisiran dan menemukan sejumlah bom berdaya ledak tinggi (high explosive). Ketika dibawa ke markas, salah satu bom tersebut meledak dan melukainya.

“Waktu kena sudah tidak bisa ditolong lagi,” kata dia. Istri Tholib yang tengah hamil 5 bulan keguguran karena terguncang mendengar musibah yang menimpa suami tercintanya itu.

Tholib mengatakan, dirinya butuh waktu hampir 6 bulan untuk pemulihan. Dia pun sempat minder saat bergaul dengan teman-temannya. Namun, setelah mendapat kesempatan bersekolah lagi, perasaan kecil hati itu hilang dan dia dapat hidup bermasyarakat seperti biasa.

“Waktu sebelum sekolah saya minder setelah saya sekolah ada rehabilitasi sosial,” jelasnya.

Meski mempunyai keterbatasan fisik, Bripka Doni Tobing tidak mau diperlakukan istimewa dibanding rekan-rekannya di Polsek Taman Sari, Jakarta Barat (Jakbar). Tangan kanan Doni tidak bisa difungsikan lagi akibat mendamaikan perang antar suku di Timika, Papua, pada 1997 silam.

“(Tangan) kiri sudah bisa, menulis bisa. Di dinas tidak ada pengecualian semuanya normal dengan saya,” kata Tobing.

Ditambahkan Doni, tangan kanannya patah sehingga harus diamputasi. Sembilan bulan dia dirawat di rumah sakit dan menjalani operasi. Namun, Doni mengaku tidak trauma atas tragedi yang menimpanya itu.

“Tidak, karena saya masih bersyukur saya masih bisa hidup. Karena selama penugasan ke sana ada empat orang yang meninggal. Masih bersyukur hidup untuk menatap hari depan yang lebih cerah,” jelasnya.

Aiptu Suratijo merasa tidak masalah meski harus berkursi roda ketika berkantor di Polwil Yogyakarta. Punggung belakang torak ketujuhnya hancur kena peluru mental saat mengejar gembong perampok di Yogya tahun 1996.

Saat terkena peluru itu, aku Surajito, dirinya seperti tidak merasakan apa pun. Tahu-tahu kakinya sudah tidak bisa digerakkan. Dan ketika dia melihat jaketnya, darah sudah mengucur ke mana-mana.

Menurutnya, dia harus menjalani perawatan selama enam bulan di Rumah Sakit Ortopedi Solo, Jawa Tengah. Selama itu dia dilatih untuk mandiri dalam melakukan apa pun.

“Saya dulu nggak bisa apa-apa, istilahnya cuma tidur, tidur, tidur. Nggak bisa gerak ke mana-mana,” pungkas Surajito. (detik)

  • Share/Bookmark

Berita Terkait:

  1. Anggota Brimob Tewas karena Kehabisan Peluru? JAKARTA, – Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri membantah jika...
  2. Isu Teroris: Jalan Banda Aceh-Medan Dirazia, Satu Penumpang Bus Ditembak Lhokseumawe – Pasca-penggerebekan kamp militer kelompok bersenjata di pegunungan Jalin,...
  3. Gus Dur Lebih dari Pahlawan Nasional Hari ini, empat belas hari lalu, Presiden RI keempat KH...
  4. Sang Orator Ulung yang Terkurung di Seberang “Kabar duka adalah berita terbaik” Begitu ucapan tokoh antagonis dalam...
  5. 3 Imigran Myanmar Dibekuk di Medan Medan – Tiga imigran gelap asal Myanmar yang kabur dari...
  6. Riwayat AR. Moese dalam Khasanah Musik Aceh “Siapa tadi yang nyanyi? Wah orang-nya kecil tapi suara-nya besar,...
  7. Pelaku Ancaman Bom di Medan Calon Tentara Medan – Pelaku serangkaian teror bom melalui pesan singkat (SMS)...
  8. Anggota Jamaah Islamiyah Terkait Perampok Diciduk di Medan Bireuen – Fadli Sadama (27) warga Jalan Ilyas Gang Damai...
  9. Kisah Saddam di Akhir Hidupnya Setelah invasi di Irak pada 19 Maret 2003, Saddam Hussein...
  10. Sepenggal Kisah Yang Tertinggal Di Aceh Suatu malam di tahun 2005. Waktu itu Ramadhan, sekitar pukul...

Beri Komentar

Sponsor